Perjalanan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan dan Pengajaran Pada Masa Penjajahan

a. Pendidikan dan Pengajaran Zaman Pemerintah Hindia Belanda

Pendidikan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada dasarnya bertujuan untuk menjadikan warga negara yang mengabdi pada kepentingan penjajah. Dengan kata lain, pendidikan dimaksudkan untuk mencetak tenaga-tenaga yang dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat kedudukan penjajah, mengabdi kepada kepentingan Belanda, karena itu tujuan pendidikan diarahkan kepada kepentingan kolonial, sehingga isi pendidikan itu pun hanya sekedar pengetahuan dan kecakapan yang dapat membantu mempertahankan kekuasaan politik dan ekonomi penjajah. 

Pendapat umum orang Eropa menyatakan bahwa pemerintah kolonial seharusnya menyelenggarakan pendidikan yang betul-betul diperlukan bumiputra. Mengingat sebagian besar orang Indonesia masih hidup tergantung pada pertanian, maka didasarkan perlunya pendidikan yang hanya bersifat sederhana untuk orang bumiputra tanpa memberikan pelajaran bahasa Belanda, ilmu pengetahuan modern dan sejarah. Dalam bidang pendidikan, pemerintah mendasarkan kebijaksanaan pada pokok-pokok pikiran sebagai berikut:

1. Pendidikan dan pengetahuan Barat diterapkan sebanyak mungkin bagi golongan penduduk bumiputra. Untuk itu bahasa Belanda diharapkan dapat menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah.

2. Pemberian pendidikan rendah bagi golongan bumiputra disesuaikan dengan kebutuhan mereka. 


b. Pendidikan dan Pengajaran Zaman Pemerintah Jepang

Pada 18 Maret 1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda Van Stakenborg dan Panglima Militer Ter Porten atas nama Pemerintah Hindia Belanda menandatangani kapitulasi di Kalijati, Subang, Jawa Barat, yang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Tentara Pendudukan Jepang. KNIL dibubarkan dan semua perlawanan dihentikan tanpa suatu pertempuran yang sengit. 

Sesudah tentara pendudukan Jepang mulai berkuasa, tak ada satu sekolah pun yang diperkenankan dibuka kembali. Lagi pula persiapan-persiapan kearah itu belum diadakan. Masih banyak kesuitan-kesulitan yang perlu diatasi terlebih dahulu, lebih-lebih kesulitan mengenai guru, karena Pemerintah Kolonial Belanda tidak mempersiapkan secara khusus guru-guru Indonesia untuk sekolah-sekolah menengah, apa lagi menengah atas, sehingga saat terakhir dari masa penjajahan Belanda hanya ada beberapa orang guru Indonesia yang mempunyai wewenang penuh untuk mengajar sekolah lanjutan. Kesulitan lainnya ialah mengenai buku-buku pelajaran. Semua buku pelajaran ditulis dalam bahasa Belanda. Sedangkan pemerintah pendudukan Jepang melarang pemakaiannya. Akan tetapi sebaliknya, karena kesulitan-kesulitan inilah yang rupanya mendorong bangsa Indonesia untuk melengkapi bahasanya dengan istilah-istilah baru yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan.

Di samping itu, pemerintah pendudukan Jepang hanya mendorong bangsa Indonesia untuk mempelajari bahasa Jepang yang masih asing sekali bagi telinga bangsa Indonesia. Untuk maksud itu, pemerintah pendudukan Jepang membuka sekolah-sekolah yang khusus memberi pelajaran bangsa Jepang secara kilat. Sekolah-sekolah itu disebut Nippongo Gakko. Selain itu ada pula pendidikan yang disebut Hakko lchiu yang mengajak bangsa Indonesia bekerjasama.

Dasar pendidikan di sekolah-sekolah ialah pengabdian kepada pemerintah pendudukan Jepang. Pendidikan diliputi oleh suasana perang, maka banyak nyanyian-nyanyian dan semboyan serta latihan-latihan dihubungkan dengan persiapan-persiapan untuk menghadapi perang. pada masa pendudukan Jepang, penyelenggaraan pendidikan kurang teratur. Jumlah sekolah untuk semua jenjang pendidikan sangat menurun. Hal ini mengakibatkan makin bertambahnya orang-orang yang buta huruf. Perbedaan kasta pada zaman pendudukan Jepang ditiadakan sehingga semua sekolah dasar memiliki derajat yang sama yaitu bernama Sekolah Rakyat. Penghapusan tingkatan pendidikan itu bagi bangsa Indonesia besar sekali manfaatnya, karena dengan demikian tidak terdapat lagi diferensiasi di antara bangsa-bangsa kita sendiri yang pada hakikatnya sebagai manusia berkududukan sama (Makmur Djohan, dkk. 1993).


Pendidikan dan Pengajaran Setelah Merdeka

Setelah memasuki masa kemerdekaan tentunya pendidikan Indonesia di dasari pada nilai-nilai yang berlaku di masyarakat pribumi. Pendidikan Indonesia bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai pancasila dan rasa nasionalisme pada setiap lulusannya. Walaupun pendidikan di Indonesia sudah jauh berkembang, tetapi tetap saja masih terdapat beberapa masalah-masalah yang muncul seiring berkembangnya zaman. Berikut beberapa masalah yang menyebabkan pendidikan Indonesia menjadi terhambat diantaranya adalah:

1. Akses terbatas untuk menempuh pendidikan.

2. Ketimpangan pendidikan

3. Kualitas guru dan tenaga pendidik

4. Kurikulum yang tidak relevan

5. Kualitas fasilitas dan infrastruktur

6. Kesenjangan digital

7. Kualitas ujian dan evaluasi.


Kesimpulan 

Setelah menelaah sejarah pendidikan yang ada di Indonesia dapat saya simpulkan bahwa pada dasarnya pendidikan pada masa penjajahan sangat tidak adil. Pendidikan hanya ditujukan kepada kaum bangsawan dan beberapa pribumi yang nantinya akan diangkat untuk membantu pekerjaan para kolonial Belanda maupun Jepang. Pendidikan pada masa itu hanya terbatas pada belajar menulis dan membaca saja dengan penanaman nilai-nilai kolonial yaitu individual, materialistis, dan intelektual.

Setelah masa kemerdekaan permasalahan pendidikan tidak lagi pada keadilan tetapi lebih kepada pengembangan manusia yang sedang di beri pendidikan. Pendidikan pada masa ini menjadikan siswa sebagi objek yang hanya mendengar dan menuliskan ilmu yang disampaikan oleh gurunya. Padahal banyak sekali ragam model pembelajaran yang dapat membantu keaktifan siswa dalam belajar di kelas. Pendidikan belum masuk kepada tahap komunikasi dua arah. Meskipun pada saat ini sudah mulai diterapkan dibeberapa sekolah bahwa pada pembelajaran siswa yang paling diutamakan untuk aktif di dalam kelas, namun kegiatan tersebut belum merata dilakukan disetiap sekolah yang ada di Indonesia mengingat banyaknya kekurangna fasilitas di beberapa sekolah yang tidak mendukung peserta didik untuk aktif belajar di kelas. 

Mengingat negara Indonesia yang begitu luasnya menjadi salah satu alasan mengapa pendidkan di Indonesia masih timpang di beberapa daerah, seperti perkotaan dan pedesaan. Kualitas pendidikan di kota lebih bagus dibandingkan dengan di desa. Para tenaga pendidik juga berebut untuk menjadi salah satu guru di sekolah-sekolah yang ada di kota, pada akhirnya sekolah yang ada di desa kekurangan guru untuk mendidik mereka. Begitu pula bantuan yang diberikan kepada setiap sekolah juga tidak merata. Banyak sekolah-sekolah di kota yang mendapat dana BOS yang cukup fantastis, sehingga sekolah tersebut dapat melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan di sekolah tersebut seperti: meja, kursi, buku, infokus, kipas angin, dan lain sebagainya. Berbanding terbalik dengan sekolah-sekolah yang ada di desa. Mereka mendapatkan dana BOS yang sedikit, jangankan untuk membeli kipas angin, untuk membayar gaji guru honor saja pun tidak cukup.


Perubahan Diri 

Perubahan diri yang saya alami setelah membaca sejarah pendidikan di Indonesia adalah saya merasa bersyukur dapat hidup dimasa-masa kemerdekaan. Saya semakin paham bagaimana perjalanan para tokoh pendidikan dalam memperjuangkan keadilan untuk pendidikan di Indonesia. Selanjutnya saya merasa butuh untuk mencoba beberapa macam model pembelajaran yang nantinya dapat mengaktifkan siswa dalam belajar. Saya akan berusaha untuk membuat siswa senang belajar matematika dengan menggunakan media pembelajaran yang sangat berkembang pada saat ini. Kemudian saya ingin agar peserta didik yang akan menjadi murid saya menjadi lulusan yang berTuhan dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Selanjutnya saya ingin menjadi guru yang memiliki jiwa yang ikhlas dan amanah, sehingga dalam menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik yang mendidik anak bangsa menjadi lebih mudah dan menyenangkan.


Sumber:

Makmur, Djohan, dkk. (1993). Sejarah pendidikan di indonesia zaman penjajahan. Jakarta: CV Manggala Bhakti

FKIP UMSU. Masalah pendidikan yang umum terjadi di indonesia. (2023). Diakses pada 8 Oktober 2023, https://fkip.umsu.ac.id/2023/07/12/masalah-pendidikan-yang-umum-terjadi-di-indonesia/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Macam-Macam Bangun Datar